Inilah UPV, Mobil Murah Karya Anak Bangsa seharga Rp. 30 juta

Baca Kutipan berikut:

KOMPAS.com –  Obsesi orang Indonesia membuat mobil dengan harga terjangkau oleh masyarakat bawah, ternyata tidak kalah gencar dengan Ratan Tata dari India yang telah membuat Tata Nano. Kalau Nano yang telah menghebohkan dunia harga dasar 1 lakh atau 10.000 rupee alias Rp 21 juta, orang Indonesia ingin membuat mobil kecil alias mikro car dengan target harga termahal Rp 30 juta……

Mobil yang lahir dari konsep dan kreativitas asli anak bangsa Indonesia ini oleh  Widya Aryadi, seorang dosen muda yang kreatif yang punya banyak penemuan otomotif dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) — yang kini berkoalisi dengan Anis Muhammad Mufid —  telah mendirikan Arina Motors Development di Semarang, Jawa Tengah untuk mengujudkan keinginannya, membuat microcar atau mobil munggil.

1027587p

Seperti yang dipaparkan oleh Widya kepada Kompas.com, ketika dipamerkan di ajang Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2009 yang diselenggarakan Departemen Perindustrian Minggu lalu (13-17 Mei), ada beberapa keunggulan dari mobil mikro ini :

Lebih Mungil. Dimensi mobil ini memang sangat mungil. Lebih mungil dari Nano yang panjang 3,1 meter. Mobil mikro ini  dimensinya: panjang 2,05 meter, lebar 1,15 meter, tinggi 1,6 meter, jarak sumbu roda 1,75 meter dengan berat total prototipe 400 kg. “Kalau sudah jadi, targetnya 300 kg,” ujar Widya yang menyebut mobil ini sebagai UPV atau Urban Personal Vehicle yang dirancang khusus untuk orang kota.

Irit. Sebagai alat transportasi kota pengganti sepeda motor, dengan menggunakan mesin Viar, 150 cc, SOHC dan menghasilkan tenaga 9PS, menurut Widya, konsumsi bahan bakar UPV bisa mencapai 40 km/jam.  TV BBC dari Inggris bahkan telah membuat liputan khusus dengan scenario tersendiri yaitu  konsep keluarga yang punya banyak anak dan tinggal di gang sempit.  “Orang  BBC bilang, mobil ini lebih irit dari sepeda motor,” jelas Widya  mengutip komentar krew BBC tersebut.

Mobilitas di gang sempit. Cukup menarik, dengan lebarnya hanya 1,2 meter.  Kendati masih tahap prototipe pertama UPV begitu gampang melewati ruang sempit. Bahkan ketiga dinaikkan ke trup untuk kembali ke Semarang, mobil ini dengan mudah meluncur di teras gedung bari PRJ. Berarti, kemampuannya menyelusup, sama seperti sepeda motor atau Bajaj roda tiga.   Widya sempat mengajak KOMPAS.com naik UPV ini sebagai penumpang untuk mencoba di sekitar arena Pekan Raya Jakarta. Ternyata, mobil ini bergerak dengan lincah dan cukup stabil.

Meskipun demikian, menurut Widya lagi masih terdapat beberapa kekurangan pada mobil ini. Misalnya di depan penumpang depan, kaki kurang bebas menjulur. Ternyata penyebabnya ada tangki bensin berkapasitas 15 liter ditempat di sana. “Nanti dipindahkan,” tegasnya. Kursi pun masih fibre glass, statis dan tidak bisa disetel. Sistem kontrol di setir dan dashboard, masih menggunakan perangkat seperti di sepeda motor. “Ini masih jauh dari kondisi standar yang ingin kami inginkan, ” jelas Widya lagi. Bodi  mobil ini dibuat dari pelat 0,8 mm dan sehingga bobotnya jadi lebih berat.   Akan tetapi Versi kedua, yang sudah lebih akan dipamerkan di IIMS (Indonesia International Motor Show) Juli dan Agustus mendatang, bodinya dibuat dari fibre glass. Juga sudah dilengkapi pintu belakang atau ketiga.  “Dengan cara demikian bisa untuk kendaraan niaga,” harap Widya.

Terlepas dari semua pemberitaan di atas, mungkin yang terpenting dari semua keinginan untuk membuat mobil murah dengan harga terjangkau oleh masyarakat bawah, seperti yang sebelumnya sudah dibahas di blog ini : Perlukah Mobil Murah di Indonesia, perlu turut dipikirkan adalah ketersediaan panjang ruas jalan dan ruang parkir.   Sebab seperti kita ketahui – apalagi di Jakarta – pertambahan jumlah mobil tidak berbanding lurus dengan pertambahan ruas jalan dan ruang parkir yang ada.  Sehingga dikhawatirkan permasalahan kemacetan di kota-kota besar justru akan bertambah dengan kemudahan kepemilikan mobil dikarenakan harganya yang murah.  Tanpa harus mematikan kreativitas anak bangsa – tentunya peran pemerintah dalam menyediakan prasarana dan sarana pendukung sebagai antisipasi dari semakin bertambahnya jumlah kendaraan (mobil) yang berpotensi terhadap kemacetan – menjadi sangat penting.

Ingat, Jakarta sudah ditetapkan sebagai tempat yang paling direkomendasikan dikunjungi tahun 2009 oleh majalah Time karena kemacetannya yang luar biasa parah.

Ke depan kita juga dapat berharap kreativitas anak bangsa terhadap pilihan  sarana transportasi akan lebih mempriotaskan perhatiannya terhadap desain ideal sarana transportasi public (angkutan umum).  Karena Jakarta (dan akan menyusul kota-kota besar lainnya di Indonesia) — perjalanan yang menyenangkan, tepat waktu dan bebas kemacetan masih sebatas impian……….

pustaka :