Gempa di Indonesia Karena Kutukan Tuhan?

Sebenarnya judul posting di atas mengada-ada, terlalu mengada-ada dan sangat mengada-ada.  Hal ini adalah untuk menjawab sebagian kalangan (terutama bloger Malaysia) yang mengutuk gempa yang terjadi di Indonesia. Alasannya karena Tuhan benci Indonesia? Bahkan lebih mengada-ada mengait-ngaitkan gempa yang terjadi karena SBY?.

Indonesia sering dilanda Gempa.  Fakta tersebut benar adanya.  Lihat saja catatan Peta Gempa  skala besar yang pernah terjadi di Indonesia (1992-2009) berikut :

Data tersebut belum termasuk gempa-gempa lainnya dalam skala kecil yang mungkin jumlahnya dapat mencapai ribuan kali gempa dalam periode tersebut.  Belum lagi jika ditambah dengan data gempa yang terjadi sepanjang masa di Indonesia, tentunya memerlukan puluhan bahkan ratusan halaman untuk mencatatnya, sebut saja satu yang terkenal di antaranya yaitu gempa yang disebabkan letusan Gunung Karatau pada tahun 1883 yang guncangan nya luar biasa dahsyat.

Simak Peta Gempa di Indonesia  berikut :

peta-gempa-ina

Sebanyak itu ya!

Lantas Mengapa Gempa?

Gempa bumi adalah getaran yang terjadi permukaan bumi. Jika dilihat dari penyebab terjadinya atau yang men-trigger, gempa bisa dikelompokkan menjadi  dua yaitu gempa vulkanik dan gempa tektonik.  Jika hendak ditambahkan Gempa bumi juga dapat disebabkan oleh manusia yang disebut  seismisitas terinduksi . Gempa vulkanik adalah gempa yang dihasilkan akibat adanya hubungan dengan letusan gunung berapi. Gempa tektonik adalah gempa yang dihasilkan akibat adanya hubungan dengan pergeseran dua blok yang sebelumnya berdekatan satu sama lain. Dampak paling mengerikan dari adanya gempa Tektonik adalah munculnya Tsunami, ingat saja Tsunami dahsyat yang terjadi di Aceh, 26 Desember 2004.  Sedangkan Gempa yang disebabkan oleh manusia terjadi dari ledakan bahan peledak seperti Bom Nuklir.misalnya.

Mengapa Indonesia?

Wilayah Indonesia berada di lokasi yang sangat unik, berada dalam sabuk ‘Ring of fire’ yang terkenal yaitu deretan gunung berapi aktif yang membentuk lingkaran di seputar samudera Pasifik dan Indonesia merupakan pertemuan lempengan dunia yang terus bergerak dan bergesekan untuk mencari keseimbangan.

Seperti kita ketahui Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak Teori dari tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Garis kuning pada peta berikut adalah lempengan-lempangan dunia yang terus bergerak.

lempengan-dunia

Lihat lebih detail di Peta berikut :

lempengan-indonesia

Disini lebih jelas lagi dimana bisa dilihat dengan jelas letak lempengan dan gunung api aktif yang berada diwilayah sekitar lempengan.

Jadi walaupun harus diakui bahwa Indonesia adalah daerah rawan gempa tektonik dan vulkanik, bahkan mungkin yang paling rawan di dunia bersama-sama Jepang, namun gempa sendiri terjadi karena peristiwa alam biasa dan dapat di jelaskan secara Ilmiah.  Banyak Artikel Ilmiah yang dapat menguatkan hal tersebut.

Bagaimana Indonesia?

Ya.  Bagaimana Indonesia menghadapi kenyataan ini. Entah mengapa sekalipun Indonesia sama rawannya dengan Jepang terhadap ancaman bencana gempa bumi, tetapi seakan-akan kita tidak pernah mendapat pelajaran dari bencana-bencana yang telah lalu. Setelah gempa-tsunami Aceh dan Nias 2004 – 2005,  kita sudah diberi pelajaran ilmu alam kembali oleh gempa Yogyakarta – Jateng dan Pangandaran. Sayangnya ujian ilmu alam kita tidak pernah lulus. Untuk itulah kita patut belajar dari negara lain yang telah sukses menerapkan tanggap yang tepat dalam menghadapi bencana gempa bumi. Jepang, Nepal atau Chile adalah beberapa negara yang berhasil mendidik masyarakatnya untuk awas ketika bencana gempa bumi datang melanda.

Pemerintah seyogyanya mempersiapkan segalanya dalam mengantisipasi datangnya bencana gempa bumi yang hingga saat ini masih sulit diramal kedatangannya itu. Penataan ruang dan kode bangunan wajib dilaksanakan di kota-kota yang dinilai rawan bencana gempa bumi. Selain itu, ketika terdapat ketelanjuran perkembangan kota yang tidak siap menghadapi bencana gempa bumi, maka mempersiapkan ketahanan masyarakat yang waspada terhadap bencana gempa bumi adalah jalan keluar yang bisa mengurangi dampak bencana.

Sosialisasi membuat meja yang kuat atau kiat-kiat berlindung ketika di dalam rumah, di luar rumah atau di tepi pantai dan di bawah tebing, harus sudah dirancang dalam bentuk brosur, buklet atau poster yang dibagikan terus-menerus setiap tahun. Pengarahan, pelatihan dan simulasi tanggap bencana harus sudah mulai dirancang dan dilaksanakan. Ketika pemerintah kita terbukti gelagapan dengan penanganan pasca-bencana yang datang susul menyusul, mengapa masyarakat tidak disiapkan untuk tanggap pra-bencana?