Karya Anak Bangsa : Papan Tulis Interaktif dari Purwokerto

Media papan tulis terus berevolusi, mulai dari papan hitam yang ditulis dengan kapur tulis, lalu beralih ke whiteboard dengan spidol, hingga layar presentasi yang menampilkan naskah dari komputer.

papan tulis interaktif di indonesiaproud wordpress com

Adalah Taufiq Ariefianto, pengajar SMK Tujuh Lima 2 di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah yang berinovasi membuat papan tulis interaktif, di mana gerakan tangan dan sentuhan seperti di papan tulis bisa muncul secara visual di layar presentasi.

Taufiq yang mengajar Teknik Komputer Jaringan, gemar mengutak-atik perangkat lunak dan keras. Dari mencoba-coba dan berbagi pengalaman dengan komunitas pengguna sumber terbuka (open source), dia menemukan teknologi yang membuat kegiatan presentasi jadi lebih menarik.

Taufiq memanfaatkan spidol dan stabilo bekas. Ia memodifikasi dengan menambahkan lampu inframerah, sistem penguatan sinyal, dan sebuah tombol sehingga menjadi pena yang dapat menulis di proyeksi presentasi pada dinding atau layar.

Tampilan pena ini mirip pena inframerah yang biasa digunakan untuk presentasi di layar proyektor. Bedanya, pena ini berfungsi ganda sebagai mouse yang dapat menggerakkan kursor dari proyeksi tampilan komputer.

Ketika tombol pena ditekan, gerakan lampu inframerah terekam oleh sensor pembaca gerak pada konsol permainan Wii yang meneruskan melalui sinyal bluetooth ke peranti lunak dalam laptop. Sinyal itu kemudian diterjemahkan menjadi format digital dan ditampilkan di layar.

Dengan perangkat lunak yang biasa digunakan untuk smartboard, pentabulous, maupun Iboard, pena dapat digunakan untuk menulis di layar seperti di papan tulis. Garis, tulisan, atau gambar yang dibuat dengan gerakan tangan itu kemudian terekam dalam format digital.

Pengembangan

Taufiq mengakui ada teknologi serupa, yakni smartboard. Tetapi, harganya mencapai Rp 20 juta. ”Sedangkan untuk membuat pena ini, biayanya sangat murah. Bekas stabilo tidak perlu beli, lampu inframerah juga hanya Rp 500. Bagi saya, yang penting kegiatan belajar-mengajar interaktif tanpa harus mengeluarkan banyak biaya,” katanya.

Karya Taufiq memenangi juara pertama dalam Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat Jateng 2012. Karya itu masuk dalam daftar 104 inovator nasional versi Kementerian Riset dan Teknologi.

Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Jateng, Akmal Afif, menyatakan bahwa meskipun sudah ada teknologi serupa, nilai terpenting dari inovasi yang diciptakan masyarakat adalah kronologi penciptaan yang dilakukan. Ada proses pembelajaran di dalamnya. Produk yang dihasilkan biasanya lebih canggih atau lebih efisien dari yang ada.

Karena itu pula, Taufiq tidak khawatir kalau apa yang dilakukannya ditiru pihak lain. Karena sering berinteraksi dengan para pengguna sumber terbuka, ia menjadi sangat terbuka. Untuk mengurus hak paten, kalau tidak didorong oleh Balitbang Jateng, Taufiq tidak akan mengurusnya.

Kepala Balitbang Jateng Sri Atmodjo menuturkan, semangat masyarakat Jateng untuk menghasilkan karya-karya inovasi termasuk tinggi, tetapi belum banyak yang bisa mendapat hak paten. Sulitnya proses dan mahalnya biaya untuk mengurus menjadi kendala bagi warga mematenkan produk mereka.

”Yang paling sulit adalah memastikan orisinalitasnya. Kebanyakan berupa produk modifikasi. Tetapi, itu bukan masalah. Sebab bagi masyarakat, temuan mereka itu berguna bagi kepentingan mereka, bukan untuk keperluan komersial,” ujar Sri.

Sumber: kompas.com

Inovasi Perahu Motor Berbahan Bakar Dari Kubu Raya

Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah pada tanggal 1 April kemarin sungguh memusingkan semua pihak.  Karena di negeri ini, kenaikan harga BBM hampir pasti diikuti dengan kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya termasuk di sektor jasa.  Ini berarti akan ada beban tambahan bagi masyarakat, daya beli menurun sementara penghasilan tidak bertambah, sehingga mahasiswa dan rakyat merasa perlu turun ke jalan melakukan demontrasi untuk menolak kenaikan harga BBM di seluruh penjuru negeri.  Sementara di pihak pengambil kebijakan, pemerintah katanya juga serba salah antara pentingnya menaikkan harga BBM dengan kemampuan APBN yang katanya kewalahan akibat bertambahnya beban subsidi BBM akibat meroketnya harga minyak dunia.  Walahualam!

Meskipun kemudian ternyata harga BBM bersubsidi tidak jadi naik, celakanya harga-harga sudah terlanjur naik.  Dan dari sejarah harga di Indonesia yang pernah tercatat,  ternyata jika harga sudah naik sulit untuk turun kembali….

Terlepas dari hal tersebut di atas, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat tengah mengembangkan inovasi teknologi tepat guna mengganti bahan bakar bensin ke bahan bakar gas perahu bermotor nelayan. “Kami membentuk tim mengembangkan teknologi tepat guna mengkonversi bensin ke gas. Mesin yang kita kembangkan ini menggunakan dua bahan bakar yang dapat dipilih sendiri oleh masyarakat. Jadi mesinnya bisa menggunakan bahan bakar bensin, bisa juga bahan bakar gas,” kata Kepala Bidang Ikan Tangkap, Dinas Perikanan dan Kelautan Kubu Raya, Jemain (Equator, 12/3).

Pengembangkan mesin sampan bermotor menggunakan bahan bakar gas didorong keprihatinan masih banyak nelayan yang terbebani dengan mahalnya harga bahan bakar. Dengan bahan bakar gas, nelayan bisa menghemat pengeluaran hingga empat kali lipat. Satu tabung gas 3 kg bisa digunakan untuk perjalanan selama 10 jam dengan jarak tempuh lebih dari 20 kilometer. Selain itu juga mengurangi emisi gas, karena mesin yang menggunakan bahan bakar gas ini sama sekali tidak mengeluarkan asap. Riset untuk pengembangan mesin tersebut selama enam bulan.   Sudah dilakukan beberapa kali uji coba dan hasilnya sangat memuaskan.  Mesin ini juga dapat menggunakan dua bahan bakar sekaligus, yaitu Bensin dan Gas.

Test drive oleh Bupati Kubu Raya

Dalam kesempatan terpisah, Bupati Kubu Raya,  Muda Mahendrawan mengatakan, pengembangan mesin berbahan bakar gas itu dilakukan sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat kecil, khususnya para nelayan kecil yang selama ini terus terbebani dengan mahalnya harga BBM.

Narasumber  : Lembaga Energi Hijau

Sekarang telah tersedia converter kit untuk bahan bakar gas perahu bermotor.  Bagi yang berminat dapat menghubungi via email : lembagaenergihijau@yahoo.com / Hp. 081345039789

Mantaps! Indonesia Dominasi Juara Kontes Robot di Amerika

Mantaps!. Tim robot dari tiga perguruan tinggi Indonesia, yakni ITB, ITTelkom, dan Unikom (Bandung) mendominasi lomba robot cerdas “Trinity College Fire-Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC)” di Trinity College, Hartford, Connecticut, AS.

Tidak tanggung-tanggung, Tim Indonesia meraih 8 gelar bergengsi pada ajang tersebut. Seperti dilansir dari Antara, ke-delapan gelar adalah juara satu dan dua (robot pemadam api divisi beroda/ITTelkom); juara satu, dua, dan tiga (robot pemadam api divisi berkaki/ITTelkom dan ITB); juara satu (RoboWaiter divisi Entry Level/Unikom); serta juara satu dan dua (RoboWaiter divisi Advanced/Unikom).

TCFFHRC adalah kompetisi tahunan robot cerdas pemadam api yang diselenggarakan di Trinity College, Hartford, Connecticut, AS. Dan kali perlombaan ke 19 kali ini diikuti oleh 130 tim yang bertanding pada berbagai kategori.


Aturan pertandingan pada kompetisi TCFFHRC diadopsi pada kompetisi robot di berbagai negara, mulai tingkat regional hingga nasional. Indonesia juga mengadopsi aturan kompetisi di TCFFHRC pada ajang Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) untuk kategori robot beroda dan kategori robot berkaki.

Ada beberapa divisi pertandingan pada TCFFHRC. Pada divisi Fire-Fighting, robot secara cerdas dan mandiri berusaha mencari api dalam labirin yang menyerupai denah ruangan rumah, kemudian mematikan api itu dan kembali ke posisi semula. Divisi fire-fighting terbagi dua kategori, yaitu divisi robot beroda dan divisi robot berkaki.

Untuk divisi RoboWaiter, robot bertugas menjadi pendamping orang tua yang memiliki keterbatasan (disable), yakni robot bertugas mengambil piring dari tempat penyimpanan makanan/kulkas dan memindahkannya ke meja tempat orang tersebut akan makan. Divisi ini juga ada dua kategori, yakni Entry Level dan kategori Advanced.

Narasumber : Infospesial.net

Robot Pembatik Ciptaan Guru SMK

Batik sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.  Agus Martoyo, guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Tegal, Jawa Tengah, baru-baru ini berhasil menciptakan robot pembatik yang mampu mempercepat proses pembuatan pola batik tulis dengan hasil produksi lebih tinggi dibanding proses manual.  Robot pembatik ini bahkan mampu melukis aneka motif batik tulis layaknya tangan-tangan terampil pembatik handal.

“Robot itu kami namakan Robotika Machine 7NG-1110. Ini kami buat untuk mempercepat proses membuat pola secara langsung di atas kain tanpa menggunakan alat gambar manual,” kata Agus Martoyo, guru mata pelajaran Elektronika dan Mesin SMKN 1 Kota Tegal di pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) 2011 di Alun-alun Kota Tegal, Minggu.

Guru kelas sekaligus pencipta mesin robot batik tersebut mengatakan, ide awal menciptakan robot batik berawal dari keluhan sejumlah pengusaha batik tulis yang kesulitan membuat pola sehingga muncullah ide menciptakan mesin yang dapat membubuhkan cairan malam ke kain dengan corak tertentu.

“Saya kerap mendengar keluhan sejumlah pengusaha batik tulis yang kesulitan membuat pola, terutama saat permintaan pasar tinggi, waktu terbatas, dan tenaga pembatik kurang,” katanya.

Menurut dia, untuk membantu memecahkan keluhan para pengusaha batik tersebut, pada Juni 2011 ia mulai merancang dan merakit sejumlah komponen elektronika hingga menjadi sebuah mesin batik, bahkan proses pembuatan robot hanya memakan waktu sekitar satu bulan.

“Robot tersebut mampu membuat pola dalam waktu tiga jam atau lebih cepat dari cara manual yang dapat memakan waktu hingga tiga minggu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, alat tersebut terdiri atas mesin komputer dilengkapi dengan basis vektor dan basis komputer “idea manufacturer” serta sebuah mesin yang berfungsi untuk mengaplikasikan pola batik seperti yang tertera di layar komputer ke lembaran kain, setelah pola terbentuk dibutuhkan software corel draw untuk mempermudah file yang akan dimasukan ke mesin tulis.

“Mesin itu juga dilengkapi dengan tempat untuk menampung cairan malam dengan berat anatara 10-15 gram, sehingga saat mesin dioperasikan maka cairan malam tersebut secara otomatis akan membentuk pola batik dalam kain yang terbentang dengan lebar maksimal 120×150 sentimeter,” katanya.

Alat berdaya listrik 300 watt dan sistem operasinya dikendalikan melalui komputer tersebut, kata dia, cara kerjanya mirip mesin bordir dan telah diujicobakan oleh sejumlah pengusaha batik di Kota Tegal dan sekitarnya, bahkan rencananya akan dijual seharga Rp40 juta per unit.

“Sementara ini hanya satu unit robot batik yang saya ciptakan dan digunakan untuk pelatihan para siswa. Bahkan akan dikembangkan lagi agar lebih canggih dan dapat menjawab kebutuhan dunia usaha oleh para siswa saya,” katanya.

Menurut dia, secara keseluruhan robot tersebut telah berfungsi sesuai harapan namun masih ada sejumlah kekurangannya antara lain pada tahap penerapan perangkat lunak, sehingga diharapkan para siswa dapat mengembangkan robot tersebut agar lebih canggih.

 

Narasumber : AntaraNews.com

Tiga Siswi SMU Hasilkan Listrik Dari Ekstrak Daun Sambiloto

Tiga Siswi SMU Hasilkan Listrik Dari Ekstrak Daun Sambiloto

 Daun Sambiloto

Krisis energi yang perlahan semakin terasa dampaknya, mengilhami tiga orang siswi di SMUN 1 Bantul, Yogyakarta untuk menemukan solusi sederhana atas permasalahan tersebut. Ajang lomba karya tulis ilmiah tingkat SMA/SMK/MA se-Jawa-Bali 2011 yang digelar oleh UPTD SMAN 2 Nganjuk, Jawa Timur mereka jadikan wadah untuk mempertunjukkan jerih payah mereka.

Ketiganya melakukan riset selama 4 bulan untuk menemukan sumber energi alternatif yang banyak ditemukan di sekeliling kita. Usaha mereka tidak sia-sia. Pilihan mereka akhirnya jatuh pada daun tanaman yang bernama latin Andrographis paniculata atau di masyarakat Indonesia dikenal dengan Sambiloto.

Rima Melati, Sri Astutiningsih dan Muafiqoh Dwiarini tidak sendirian dalam melakukan risetnya. Mereka didampingi Kepala SMUN 1 Bantul, Drs.  Isdarmoko, M.Pd serta Reni Shintasari, mahasiswa Fisipol UGM.

Proses pembuatan sumber energi listrik alternatif yang bekerja dengan prinsip baterai tersebut, menurut Rima Melati, salah satu dari tim riset tersebut terbilang cukup rumit. Setelah tiga bulan, mereka baru menemukan bahwa ekstrak daun Sambiloto tersebut mempunyai sifat elektrolitis. Sebanyak 1 kilogram daun Sambiloto ditumbuk dan diblender untuk mendapatkan ekstraknya yang kemudian dicampur dengan 2,5 liter air murni atau aquades. Hasilnya tiga liter baterai cair dari daun Sambiloto.

Dalam uji coba yang dilakukan saat lomba pada 3 April 2011 lalu, baterai cair dari ekstrak daun Sambiloto yang terdiri dari 6 buah sel dan menghasilkan tegangan 2,5 Volt tersebut mampu menyalakan lampu berdaya listrik 0,72 Watt.  Setiap sel baterai berisi 500 mililiter dan dipasang elektroda yang terbuat dari pelat seng dan tembaga. Menurut mereka, ekstrak daun Sambiloto tersebut sebenarnya sanggup untuk menyalakan lampu 5 Watt selama satu bulan penuh. Hanya saja dibutuhkan 16 liter ekstrak daun tersebut.

Sama seperti baterai pada umumnya, baterai cair ekstrak daun Sambiloto tersebut perlu pemeliharaan jika sudah mengalami penurunan kinerja. Jika baterai biasa harus diisi ulang atau dialiri listrik lagi, maka pada baterai daun Sambiloto perlu ditambahkan lagi ekstraknya.

Meski hasil riset mereka sederhana, tetapi langkah yang mereka lakukan kembali mengingatkan bahwa banyak cara untuk menghasilkan energi alternatif dengan memanfaatkan berbagai potensi yang tersedia di sekeliling kita.

 

Narasumber : PlanetHijau.com

Kreatif! Alat Pendeteksi Banjir Lahar Dingin Dengan Sinyal Bahaya Via SMS

Estu Jati Pratitis dan alat pendeteksi lahar dingin buatannya (Foto: UMY)

Estu Jati Pratitis dan alat pendeteksi lahar dingin buatannya (Foto: UMY)

Selain bertukar kabar, short message service (SMS) juga bisa menjadi alarm bahaya banjir lahar dingin. Bagaimana caranya?

Hal ini mungkin dilakukan melalui penemuan terbaru dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Salah satu mahasiswanya, Estu Jati Pratitis, menciptakan alat pendeteksi banjir lahar dingin. Sinyal bahaya dikirimkan melalui SMS.

Selama delapan bulan, Estu mengutak-atik peralatan sederhana yang dapat mendeteksi getaran atau tumbukan sebagai sinyal awal akan datangnya banjir lahar dingin.

Alat buatan Estu mendeteksi getaran pada besaran frekuensi hertz (Hz) dan Analog to Digital Converter (ADC). Estu menjelaskan, frekuensi menjadi parameter utama sebagai acuan besarnya getaran dibandingkan ADC.

“Kemudian, faktor yang mempengaruhi besar kecilnya frekuensi adalah jumlah getaran yang terjadi dalam satu detik yang diterima sensor,” kata Estu seperti dikutip dari laman UMY, Senin (5/12/2011).

Rangkaian alat pendeteksi banjir lahar dingin ini terdiri dari sensor speaker, rangkaian controller, dan rangkaian pengirim SMS. Cara kerja alat ini dimulai dengan pendeteksian getaran yang timbul dari material vulkanik oleh sensor speaker. Ketika terdeteksi, akan muncul sinyal yang disebut sinyal pengkondisi.

Sinyal ini kemudian ditangkap oleh rangkaian controller untuk dihitung nilai Frekuensi (Hz) dan ADC yang dihasilkan.

“Jika hasil frekuensi dan ADC melewati ambang batas >1.000 Hz maka akan langsung masuk pada rangkaian modul pengirim SMS, dan pesan tentang bahaya banjir lahar dingin akan segera terkirim ke telepon seluler penerima SMS tersebut,” imbuh Estu.

Alat tersebut juga berfungsi sebagai perangkat early warning system (EWS) untuk bencana bajir lahar dingin. Estu dan kedua dosen pembimbingnya, Ir. Agus Jamal, M.Eng. dan Iswanto, S.T., M.Eng, pun telah melakukan uji coba laboratorium melalui pengujian nilai frekuensi, nilai ADC, dan modul pengiriman SMS.

Dia berharap, alat buatannya itu dapat membantu masyarakat di kawasan rawan bencana lebih siaga dan sigap ketika bencana lahar dingin datang.

Narasumber : OkeZone

Mantaps! Pelajar SMP Ciptakan Battery Charger Menggunakan Sepatu, Raih Emas di Taiwan

Mantaps! Pelajar SMP dari NTB raih emas di acara Asian Young Inventions of Energy Exhibition (AYEE 2010) yang diadakan di Tainan, Taiwan.

Dalam kesempatan ini, tim Indonesia dibawah binaan LIPI mengirimkan tiga inventor muda indonesia unttuk mewakili Indonesia dalam lomba tersebut. Tidak tanggung, tanggung yang ikut mendampingi adalah adalah Kepala LIPI yang baru Prof. Lukman Hakim dan Kepala Biro Kerja Sama dan Permasyarakatan Ilmu Pengetahuan Teknologi Dr. Dedi Setia Permana. Dalam acara ini LIPI mengirimkan tim beranggotakan 3 pelajar Indonesia yaitu Dewi Lestari (pelajar SMA asal Bulukumba, Sulawesi Selatan), Safira Dwi Tyas Putri ( Pelajar SMP asal Lombok, NTB) dan Muhammad Wildan Yahya (Pelajar SMA asal Kediri, Jawa Timur).  Mereka adalah pemenang kompetisi serupa di tanah air yang diadakan tahun lalu. Safira Dwi Tyas Putri merupakan siswi SMPN 1 Aikmel, Lombok Timur, NTB. Dan hebatnya mereka ber 3 semuanya mendapat medali di kejuaraan ini.

http://dreamindonesia.files.wordpress.com/2010/11/eq6dos4l.jpg?w=485&h=313
Di acara perdana yg diikuti oleh sejumlah pelajar dari Indonesia, Malaysia, Hongkong, Korea Selatan, dan Taiwan ini, pelajar-pelajar Indonesia ini mengukir prestasi yang  menggembirakan. Safira Dwi Tyas Putri, yg biasa di sapa Putri, berhasil memperoleh medali emas untuk karyanya tentang battery charger, semacam generator listrik sederhana yg dipasang di sepatu dengan karya tulis “Sepatu Sumber Energi Listrik”. Dengan teknologi ini, pengguna bisa menge-charge baterai handphone sambil berjalan menggunakan sepatu tersebut. Sungguh sangat kreatif dan inovatif!

Sementara Wildan membawakan inovasi mengenai produksi 4 buah produk (biodiesel, bioethanol, biogas dan pupuk organik) dari kelapa melalui pengolahan bertingkat secara terintegrasi, memperoleh medali perak untuk kategori pelajar SMA.  Sedangkan Dewi memperoleh medali perunggu untuk karyanya tentang produksi biofuel dan briket dari kelapa.

Sebuah prestasi yang  membanggakan dan semoga terus berlanjut di masa-masa mendatang.  Semoga prestasi yang diraih putra-putri terbaik indonesia ini bisatetap dipertahankan dan diikuti oleh pelajar-pelajar lainnya.

Kabar baik lainnya, sepatu ciptaan Putri diberitakan akan dibeli lisensinya oleh perusahaan sepatu di Korea.

source : Sasak.org

Anak Bangsa Ciptakan Mobil Berbahan Bakar Jus Lemon, Raih Peringkat Ketiga di Chem-E-Car Competition, Taiwan

Anda senang minum jus lemon. Ya, tentunya menyegarkan minum jus lemon di siang yang terik, apalagi jika sedang kepanasan karena berdesak-desakan di dalam bis kota.  Lho? Apa hubungannya.  Tentu saja ada, karena suatu saat nanti Bis Kota yang anda tumpangi akan berbahan bakar Jus Lemon.

Hal tersebutlah yang mungkin di impikan oleh sekelompok anak bangsa yang wakili oleh  Mahasiswa ITS.  Dan ternyata inovasi pemakaian jus lemon sebagai alternatif bahan bakar pengganti bensin ini  meraih peringkat ketiga dalam sesi poster pada kompetisi mobil kimia (Chemical Engineering Car Competition atau Chem-E-Car Competition) tingkat Asia-Pasifik di Taiwan pada 5-8 Oktober 2010.

Mobil yang diberi nama “speKtronics” buatan tim mahasiswa Jurusan Teknik Kimia FTI sukses meraih juara tiga untuk kategori the best performance dan poster session. Tim ini juga masih dapat bernafas lega karena berhasil menyabet gelar the best design. Tim Spektronics yang berkompetisi ke Taiwan terdiri atas empat mahasiswa, yaitu Hardiyanto, Donnyanto, Yeremia, dan Rizka Nursyamsiah.

“Dalam lomba yang diikuti 54 tim dari 12 negara itu ada dua sesi yaitu performance dan poster. speKtronik merebut peringkat ketiga dan The Best Design Modelling dalam sesi poster,” kata ketua tim ITS, Hardiyanto Dwi Saputra, setiba di Bandara Juanda Surabaya, 11 Oktober 2010.

Oleh karena itu, ia bersyukur atas semua prestasi dalam kompetisi mobil kimia atau “Chemical Engineering Car Competition” (Chem-E-Car Competition) tingkat Asia-Pasifik yang baru pertama kali diikuti tim ITS yang merupakan satu-satunya wakil dari Indonesia itu.

“Itu hadiah terindah yang kami peroleh, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada pihak-pihak yang mendukung keberangkatan kami, baik dari ITS, Ditjen Dikti Kemdiknas, Semen Gresik, dan Laboratorium Energi dan Studi Rekayasa,” katanya.

“Chem-E Car Competition” adalah ajang yang diselenggarakan oleh Asia Pasific Confederation of Chemical Engineering (APCChE) bekerja sama dengan American Institute of Chemical Engineering (AIChE).

Pada kompetisi ini, para peserta diwajibkan mengaplikasikan ilmu keteknik-kimiaan dalam bentuk mobil yang digerakkan oleh energi dari reaksi kimia serta dapat membawa beban sejauh jarak tertentu.

“speKtronics digerakkan dengan energi yang direaksikan dari ekstrak lemon dan CuSO4 yang dihubungkan dengan katode-anode untuk menghasilkan reaksi kimia, lalu rangkaian dipasang seri dan paralel sedemikian rupa hingga menimbulkan proses elektrokimia seperti aki pada motor atau mobil,” katanya.

Secara teknis, mobil speKtronics dirancang dengan bahan yang murah, seperti gabus, resin, lem kayu, tisu, dempul, perban, dan cat, sehingga pihaknya tidak sampai menghabiskan dana Rp1 juta, padahal harga maksimal dari panitia adalah 2.000 dolar AS.

Mobil berdimensi sepatu box (40cm x 30cm x 18cm) ini telah diuji coba  pada akhir September di Surabaya. “Dari tes yang kami lakukan, kecepatan mobil kami 16 meter untuk satu menitnya, waktu tercepat 32 meter ditempuh selama 1 menit dan 49 detik,” tutur Hardiyanto.

“Risetnya yang mahal,” katanya didampingi Ketua Jurusan Teknik Kimia Prof Dr. Ir. Tri Widjadja, M.Eng.

Menanggapi capaian itu, Prof. Tri Widjadja menilai lomba seperti itu perlu diikuti oleh mahasiswa Teknik Kimia untuk melakukan “internasionalisasi” Teknik Kimia.

“Setidaknya Teknik Kimia akan menjadi center of excellent dalam pengembangan energi alternatif di Indonesia agar tidak kalah dengan negara lain,” katanya.

Lihat Videonya di VivaNews.

info lebih lanjut Spektronics Project

Sumber: IndonesiaProud/Antara/ primaironline/ Abarky


Ditolak di Negeri Sendiri, Berjaya di Luar Negeri. Penelitian Ampas Teh Hitam Daning Mendapat Penghargaan Internasional

Dewi Ratih Ayu Daning, mahasiswi Fakultas Peternakan UGM menorehkan prestasi yang membanggakan di tingkat internasional dengan berhasil menjadi juara dalam Alltech Young Scientist yang diselenggarakan oleh Alltech.

Prestasinya tersebut diraihnya berkat penelitian mengenai pemanfaatan limbah teh hitam sebagai agen defaunasi terhadap reduksi gas metan pada fermentasi rumen dalam mendukung peternakan ramah lingkungan.

“Dalam penelitian ini saya mencoba mengembangkan pemanfaatan limbah teh hitam dari Gambung Jawa Barat di pusat penelitian teh dan kina yang digunakan untuk menurunkan produksi gas metan hasil fermentasi ternak sapi perah atau sapi potong. Hasilnya adalah bisa meningkatkan produksi ternak,” terangnya.

Ampas teh hitam yang biasanya dibuang begitu saja, di tangan mahasiswi kelahiran Malang, 11 Desember 1988 ini, menjadi barang berguna. Ampas teh ternyata dapat mengurangi gas metana, polutan yang menyumbang 30 persen rusaknya lapisan ozon. Gas yang menyebabkan pemanasan global itu terkandung dalam kotoran sapi, kambing, dan kerbau.

Limbah teh hitam tersebut, tambahnya, digunakan sebagai campuran dari makanan sapi yakni rumput raja dan dedak halus. Selain dapat meningkatkan produktivitas ternak, makanan sapi tersebut juga menjadi ramah terhadap lingkungan.

Daning mengemas ampas teh sebagai campuran pakan ternak. Menggunakan proses fermentasi, mahasiswi Jurusan Nutrisi dan Makanan UGM, ini menguji formulanya di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan untuk menekan kadar metana yang diproduksi ternak.

Proses itu meniru fermentasi yang ada dalam perut hewan ternak. Dengan bantuan jasad renik, protozoa, fermentasi menghasilkan metana. Daning menilai senyawa di dalam ampas teh hitam, tanin, mampu menghambat metabolisme protozoa.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan teh hitam dalam pakan ternak dapat menurunkan jumlah protozoa diikuti penurunan produksi gas metan namun tidak berpengaruh pada pada kadar protein mikrobia. Secara sederhana ini dapat meningkatkan produktivitas peternakan,” jelasnya.

Tanin membuat jumlah protozoa menurun sebesar 34,9 persen. Dampaknya, konsentrasi metana dalam kotoran berkurang hingga 62,4 persen. “Bau tak sedap kotoran yang menyengat juga akan hilang,” ujar putri dari Sutedjo dan Nurhayati ini.

Daning tak menyangka penelitian skala laboratoriumnya itu mendapat apresiasi dari Alltech, perusahaan bidang nutrisi hewan ternak yang bermarkas di Lexington, Kentucky, Amerika Serikat.

Dia terpilih sebagai The 1st Place Undergraduate Country Winner for Indonesia dengan menyisihkan 80 kandidat. Selanjutnya pada bulan Februari lalu ia bersaing di tingkat Asia Pasifik sukses menyabet The 1st Place Undergraduate Regional Winner for Asia Pasific mengalahkan 1.000 kandidat se-Asia Pasifik. Berkat keberhasilan tersebut, Daning melaju di tingkat dunia.

Pada kompetisi Alltech Young Scientist Award, yang digelar bersamaan dengan Alltech’s 26th International Animal Health and Nutrition Symposium pada 16-19 Mei 2010 di Kentucky, Daning meraih gelar juara kedua.

Gadis 22 tahun itu bersaing dengan 4 peserta yang mewakili Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, dan Afrika. Dalam kompetisi itu, Lee-Anne Huber dari University of Guelph, Kanada, yang mewakili Amerika Utara, meraih gelar juara pertama.

Pada Awalnya…

Gelar dan penghargaan itu membuat Daning kaget karena penelitian tersebut sebelumnya tidak lolos seleksi Pekan Kreativitas Mahasiswa, yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, tahun 2009. “Dinilai terlalu sederhana,” katanya.

Meski ditolak di kompetisi dalam negeri, Daning tak merasa sakit hati. Dia coba mendaftar kompetisi Alltech setelah mendapat saran dari dosen pembimbing, Profesor Lies Mira Yusiati. Daning diminta agar penelitiannya lebih spesifik, yaitu melihat pengaruh ampas teh hitam terhadap produksi gas metana dalam pencernaan hewan ternak.

Hambatan mulai ada. Daning kehabisan dana penelitian. Dana dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sebesar Rp 5 juta telah habis untuk kompetisi lokal. Akhirnya dia merogoh tabungan dari beasiswa yang kerap ia dapatkan. Pengorbanannya tergantikan oleh hadiah dari Alltech sebesar US$ 1.300. “Saya belikan laptop dan untuk bayar wisuda,” katanya semringah.

Daning memang sedang mengerjakan skripsi untuk meraih gelar sarjana peternakan. Dia menggunakan penelitiannya itu sebagai bahan skripsi. Meski telah diuji dan mendapat penghargaan dari Alltech, Daning tetap resah menghadapi ujian skripsi 1 Juli 2010. “Deg-degan menghadapi dosen penguji,” ujarnya.

Daning memang menggemari dunia penelitian. Saat masih sekolah menengah atas, Daning pernah mengikuti kompetisi bidang farmasi. “Sayang tidak juara,” ujarnya. Meski dinilai jago dalam peternakan, Daning mengakui bidang ini bukan keinginannya. Dia lebih menyukai jurusan farmasi dan gizi kesehatan. Tetapi, menurut guru SMA, kemampuan Daning dinilai kurang untuk masuk dua jurusan itu.

Tapi Daning tak menyesal masuk di fakultas itu. “Apalagi mendapat penghargaan,” ujar dia. Kini Daning berniat menjadi dosen di almamaternya. Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Daning harus menempuh pendidikan strata 2. Lagi-lagi dia terkendala dana. “Orang tua tidak mampu,” katanya. Maka Daning memutuskan mencari pekerjaan lain. “Butuh suasana baru.”

Meski kerap beraktivitas dalam penelitian, Daning menyimpan keprihatinan. Menurut dia, banyak hasil penelitian yang tidak bisa dipraktekkan di lapangan. Kondisi ini yang mengakibatkan peternakan di Indonesia tidak maju. Daning menilai, masyarakat yang bekerja di bidang peternakan kesulitan mewujudkan peternakan modern. “Butuh biaya besar,” ujarnya.

Kesulitan biaya oleh peternak kecil dialami sendiri oleh Daning. Ayahnya, Sutedjo, adalah petani, peternak, dan kadang berdagang. Di rumah, Sutedjo bekerja menggemukkan tiga ekor sapi. Daning pernah menyarankan ayahnya membuat pakan ternak racikannya. Awalnya dituruti, tapi lama-lama saran itu tidak dijalankan lagi. “Harganya mahal,” katanya.

source : IndonesiaProud

Anak Bangsa Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan Dari Lidah Buaya

Sudah banyak orang yang memberi peringatan, rumor, gosip bahkan artikel majalah tentang bahaya plastik. Tetapi tetap saja hanya segelintir orang yang menggubris, peduli atau sampai meneliti lebih lanjut.

Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A.

Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.

Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.

Apakah arti dari simbol-simbol yang kita temui pada berbagai produk plastik?

1-PETE#1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

2-HDPE#2. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET, #2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.

3-V#3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

4-LDPE#4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

5-PP#5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.

6-PS#6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.

7-other#7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.

Celakanyan masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.

Yang terbaik adalah hindari sedapat mungkin penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.

Hindari juga membuang sampah plastik terutama yang mengandung Bisphenol-A sembarangan karena bahan tersebut pun bisa mencemari air tanah yang pada akhirnya pun bisa mencemari air minum banyak orang.

Nah! ditengah kegalauan terhadap bahaya pemakaian barang-barang dari plastik, seorang anak bangsa telah menemukan jalan keluarnya.

Jika selama ini kita mengenal tanaman lidah buaya sebagai bahan shampo atau di Pontianak di buat sebagai bahan minuman khas dan makanan ringan, maka Humaira, mahasiswi Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, menciptakan plastik ramah lingkungan terbuat dari lidah buaya yang mudah terurai oleh tanah dalam waktu sepekan.

Hal ini dilakukan karena plastik yang sudah terpakai kerap menimbulkan pencemaran lingkungan karena menumpuknya sampah terlalu lama sehingga rawan bencana banjir.

Plastik yang biasanya menumpuk dan mencemari lingkungan hingga bertahun-tahun dapat terdegradasi atau terurai dengan tanah hanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu,” ujar gadis kelahiran Jombang tersebut.

Ia menjelaskan, plastik sintetis merupakan bahan pengemas makanan yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, berasal dari bahan-bahan sintesis, seperti selulosa asetat, polietilen, polipropilen, poliamida, poliester, polivinil klorida (PVC), polivinil asetat dan aluminium foil.

Plastik yang dibuat dari bahan-bahan tersebut bersifat non biodegradable alias tidak dapat diuraikan secara alami oleh mikroorganisme di dalam tanah.

Tidak hanya itu saja, biasanya plastik sintetis ditambahkan bahan pelembut (plasticizer) agar tidak kaku dan tidak mudah rapuh. Bahan pelembut ini, sebagian besar terdiri atas senyawa golongan ftalat (ester turunan dari asam ftalat).

“Padahal, penggunaan plasticizers, seperti PCB dan DEHA dapat menimbulkan kematian jaringan dan bersifat karsinogenik pada manusia,” ungkapnya.

Bagi Humaira, penelitiannya kali ini memberikan terobosan alternatif melalui pengembangan plastik biodegradable yang mudah didegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah dan renewable (terbarukan).

Lebih lanjut dia mengemukakan, bahan yang digunakan untuk pembuatan plastik biodegradabel ini antara lain pati lidah buaya, kitosan, dengan gliserol sebagai plasticizer.

“Lidah buaya mengandung polisakarida yang dapat membentuk lapisan film plastik yang memiliki sifat antibakteri, sedangkan kitosan mengandung protein untuk memperkuat sifat mekanika atau kekuatan plastik, serta gliserol sebagai plasticizer yang ramah lingkungan untuk memberikan kelenturan atau elastisitas pada plastik,” tukas alumnus SMA Negeri 2 Jombang tersebut.

Oleh karena itu, plastik biodegradable dari lidah buaya ini memiliki keunggulan yaitu bersifat antibakteri dan mudah didegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah, paparnya.

Humaira juga mengatakan, plastik dari pati lidah buaya-kitosan dibuat dengan variasi konsentrasi kitosan tiga persen, empat persen, lima persen, enam persen, dan tujuh persen (b/v). Sedangkan konsentrasi lidah buaya dan gliserol dibuat tetap yaitu lima persen (b/v) dan 10 mililiter.

Tentang metode, ia menerangkan, metode yang digunakan dalam sintesis plastik dari lidah buaya-kitosan, yakni “inverse fasa” dengan penguapan pelarut pada temperatur 60 derajat celcius.

“Untuk karakterisasi plastik ini meliputi pengukuran ketebalan, uji sifat mekanik, uji `swelling`, penentuan morfologi dan uji sifat biodegradable,” paparnya.

Dari hasil penelitian,  diperoleh nilai daya tarik prosentase pemanjangan film plastik dan modulus yang optimal pada komposisi pati lidah buaya dan kitosan 5 persen dibanding 7 persen (b/v), yaitu masing-masing 461,538 MPa, 6,2 persen, dan 744,416 MPa.

“Prosentase penggembungan (swelling) yang optimal diperoleh pada komposisi plastik antara pati lidah buaya-kitosan lima persen dibanding empat persen (b/v), dengan nilai 12,5 persen. Disamping itu, berdasarkan hasil Scanning Electron Microscopy (SEM), dihasilkan morfologi film plastik yang rata dan tidak berongga,” tutur Humaira menjelaskan.

Dalam uji biodegradable terhadap plastik dari lidah buaya-kitosan dengan menggunakan bakteri EM4 menunjukkan bahwa film plastik terdegradasi dalam waktu sepekan saja.

Kalau benar begitu, ditunggu nih produksi massal plastik ini.

Sumber: AkuInginHijauBumi/IndonesiaProud/ Antara